Feature Label 1

Feature Label 2

Feature Label 3

2nd Feature Label

What's Latest and Fresh in?
LayananKlinik24.site - Memberikan Informasi Seputar Kesehatan

Sunday, July 5, 2020

Mengenal Diet Eliminasi (Elimination Diet) untuk Tahu Intoleransi Makanan oleh - layananklinik24.site

Halo sahabat selamat datang di website layananklinik24.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Mengenal Diet Eliminasi (Elimination Diet) untuk Tahu Intoleransi Makanan oleh - layananklinik24.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Terkadang, orang-orang tak menyadari bahwa sejumlah masalah kesehatan yang mereka alami datang dari makanan yang dikonsumsi. Berbagai keluhan seperti sakit perut atau sakit kepala sering dikira sebagai gangguan kronis pada bagian tubuh tersebut.

Padahal, bisa saja keluhan itu adalah reaksi terhadap intoleransi makanan tertentu. Untuk bantu memastikannya, diet eliminasi adalah salah satu caranya.

Apa itu diet eliminasi?

cara mengatasi intoleransi gluten

Diet eliminasi adalah pola makan yang menghilangkan satu atau beberapa kelompok makanan yang dipercaya dapat menyebabkan reaksi intoleransi. Pembatasan jenis makanan yang dikonsumsi ini akan berlangsung selama jangka waktu tertentu.

Pola tersebut bertujuan untuk mengetahui adanya reaksi tubuh yang muncul serta menemukan beberapa makanan yang sekiranya dapat menyebabkan gejala atau memperburuk kondisinya.

Dengan melakukan diet eliminasi, nantinya Anda juga akan mengetahui adanya intoleransi makanan yang tak pernah disadari. Hanya saja, banyak yang menganggap bahwa intoleransi makanan dan alergi merupakan hal yang sama, padahal keduanya sangatlah berbeda.

Mungkin Anda mengira reaksi intoleransi pada makanan akan terjadi secara cepat, seperti saat seseorang yang alergi kacang makan makanan tersebut dan beberapa menit setelahnya muncul gejala seperti gatal-gatal atau wajah kemerahan.

diet eliminasi

Nyatanya, setiap tubuh memiliki respons yang berbeda-beda terhadap makanan. Reaksi ini juga tidak selalu berhubungan dengan respons sistem imunitas seperti yang ditemukan pada alergi.

Intoleransi makanan umumnya adalah hasil dari ketidakmampuan tubuh untuk mencerna atau memetabolisme makanan sepenuhnya. Oleh karena itu, gejalanya juga terjadi secara bertahap dan lebih terlambat beberapa jam setelah konsumsi makanan.

Sebenarnya, ada beberapa tes yang bisa dilakukan untuk mengetahui adanya alergi atau intoleransi, seperti tes darah dan tes tusuk jarum. Namun, hasilnya tidak selalu akurat apalagi bila yang Anda miliki adalah intoleransi. Maka, diet eliminasi masih menjadi cara yang lebih disarankan.

Meski demikian, diet juga bisa dilakukan bagi yang merasa memiliki alergi, mengingat alergi juga terkadang sulit didiagnosis.

Bagaimana cara melakukan diet eliminasi?

gejala intoleransi gluten

Secara garis besarnya, diet eliminasi memiliki dua fase, yaitu fase eliminasi dan fase reintroduksi.

Sebelum memulai fase eliminasi, Anda harus merencanakan terlebih dahulu pola makan yang akan dijalani dan makanan apa saja yang akan dihindari. Untuk hal ini, sebaiknya Anda diskusikan dengan dokter atau ahli nutrisi tentang makanan yang mungkin dapat menjadi pemicu reaksi.

Anda juga bisa mengetahuinya sendiri dengan mengingat-ingat makanan apa saja yang pernah membuat tubuh terasa tak nyaman setelah memakannya.

Biasanya, beberapa kelompok makanan yang umumnya menjadi pemicu dan menjadi pantangan saat menjalani diet eliminasi meliputi:

  • buah-buahan sitrus seperti jeruk dan lemon
  • produk susu termasuk keju dan yogurt
  • telur
  • gluten
  • kacang-kacangan
  • makanan laut
  • produk kedelai
  • jagung
  • sayuran nightshade (terong, kentang, tomat, paprika, cabai)

minum susu setelah diet eliminasi

Setelah memilih mana yang akan dieliminasi, Anda harus menyingkirkan bahan-bahan tersebut dari menu makan Anda selama beberapa minggu. Umumnya, fase ini dilakukan selama enam minggu, tapi ada juga yang melakukannya selama dua sampai empat minggu.

Bila fase ini berjalan lancar dan tidak menghasilkan reaksi semacam alergi, Anda dapat melanjutkan ke fase kedua, yaitu fase reintroduksi.

Pada fase ini, Anda akan kembali mengonsumsi makanan yang sebelumnya sudah dieliminasi secara bertahap. Kebanyakan makanan pertama yang dipilih adalah makanan yang memiliki risiko terendah untuk menimbulkan gejala.

Bila yang dieliminasi lebih dari satu jenis kelompok makanan, Anda bisa menambahkannya sekitar tiga sampai lima hari setelah Anda kembali mengonsumsi kelompok makanan berisiko yang pertama. Mulailah konsumsi makanan dengan porsi yang sedikit.

Misalnya, makanan pertama yang dikonsumsi setelah fase diet eliminasi adalah telur. Jika selama tiga hari tersebut tak ada gejala yang muncul, Anda bisa meneruskan dengan mulai konsumsi produk susu setelahnya.

Namun, bila Anda mengalami gejala seperti sakit perut, kulit gatal, sakit kepala, atau nyeri tubuh, besar kemungkinan Anda telah menemukan makan pemicu reaksi yang nantinya harus Anda hindari di kemudian hari.

Hal yang harus diketahui sebelum melakukan diet

cara memilih asuransi

Diet eliminasi bisa menjadi cara yang efektif untuk menemukan makanan yang membuat tubuh Anda mengeluarkan reaksi semacam alergi. Bahkan pada beberapa kasus, diet eliminasi juga bisa meringankan kondisi pasien yang memiliki sindrom iritasi usus besar (IBS).

Keberhasilan ini tentunya juga dengan catatan bahwa pasien mengikuti semua langkah secara tepat dan benar-benar menghindari makanan yang telah dieliminasi.

Namun, perlu diingat bahwa tujuan utama diet eliminasi adalah untuk mengetahui adanya alergi atau intoleransi makanan yang Anda miliki. Diet ini bukanlah solusi yang tepat untuk menurunkan berat badan mengingat tidak menetapkan batasan kalori.

Selain itu, diet ini sebaiknya dilakukan di bawah pengawasan dokter atau ahli nutrisi. Terkadang, intoleransi pada makanan bisa lebih dari satu jenis sehingga pantangan pun jadi lebih ketat.

Satu kelompok saja sudah terdiri dari berbagai macam makanan. Mengeliminasi lebih dari satu kelompok berarti akan menghilangkan sejumlah besar asupan makanan yang mana hal ini dapat menyebabkan masalah kekurangan gizi, terutama bila Anda tidak mendapatkan penggantinya.

Pastikan juga Anda sudah memeriksakan diri ke dokter terkait dengan keluhan yang dirasakan untuk memastikan bahwa gejala bukanlah tanda dari penyakit tertentu.

Itulah tadi informasi mengenai Mengenal Diet Eliminasi (Elimination Diet) untuk Tahu Intoleransi Makanan oleh - layananklinik24.site dan sekianlah artikel dari kami layananklinik24.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tuesday, June 30, 2020

Manfaat Latihan Peregangan bagi Lansia oleh - layananklinik24.site

Halo sahabat selamat datang di website layananklinik24.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Manfaat Latihan Peregangan bagi Lansia oleh - layananklinik24.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Hari tua yang bahagia berkaitan dengan kesehatan tubuh. Hal ini perlu didukung dengan aktivitas fisik dan pemenuhan nutrisi yang baik. Tak hanya di usia muda, aktivitas fisik pun perlu dilakukan untuk Anda yang menginjak usia lanjut. Latihan sederhana yang bisa dilakukan adalah peregangan. Ini penting dilakukan, karena seiring bertambahnya usia, fleksibilitas otot kian menurun. Peregangan menjadi salah satu pilihan terbaik untuk menjaga kelenturan otot para lansia. Ada beragam manfaat peregangan dan nutrisi penting untuk lansia agar mencapai kualitas hidup yang baik.

Manfaat peregangan di masa lansia

Menikmati hidup dengan cara bersantai dan tidak banyak melakukan aktivitas fisik, bisa membuat lansia terbiasa pola hidup sedenter. Tubuh yang tidak aktif bergerak membuat otot kian kaku dan berkurang fleksibilitasnya. Kekakuan otot yang terjadi bisa meningkatkan risiko radang sendi. Selain itu, orang yang berusia 65 tahun ke atas memiliki potensi hilangnya massa otot ketika ia tak melakukan peregangan otot secara rutin.

Dalam Journal of Aging Research, meneliti kelompok orang usia di atas 65 tahun dan menemukan bahwa fleksibilitas terkait erat dengan usia dan penurunan aktivitas. Ini pun berdampak pada fleksibilitas seseorang. Peneliti melihat bahwa aktivitas fisik mendukung fleksibilitas tubuh subjek penelitian, seperti pada bagian pinggul.

Penelitian tersebut menggambarkan pentingnya menjaga aktivitas fisik di masa tua. Meskipun kondisi ini terbilang alami, tetap ada cara bagi lansia mengelola fleksibilitas dan kekuatan otot, yakni dengan latihan peregangan. Berikut beberapa manfaat peregangan untuk lansia yang perlu diketahui.

1. Meningkatkan performa fisik

Fleksibilitas otot dapat dilatih dengan melakukan latihan peregangan. Bila rutin dilakukan, lansia akan lebih mudah melakukan kegiatan hariannya, seperti mengangkat barang, membungkuk, memutar badan, maupun gerakan lainnya yang repetitif.

2. Melancarkan sirkulasi darah

Peregangan di usia lansia memberi manfaat untuk melancarkan sirkulasi darah. Suhu tubuh pada jaringan otot akan meningkat saat Anda melakukan aktivitas fisik. Kenaikan suhu tubuh ini berkontribusi melancarkan peredaran darah di dalam tubuh.

Selain itu, saat lansia beraktivitas fisik, otot-otot tubuh membantu sirkulasi darah bekerja lebih cepat ke seluruh tubuh. Sirkulasi yang meningkat membuat otot jantung berpacu lebih cepat. Dengan demikian, aktivitas fisik mendorong pasokan oksigen dua kali lipat ke seluruh tubuh melalui kelancaran sirkulasi darah. Manfaat ini tentunya mendukung tubuh lansia tetap bugar.

3. Mendukung postur tubuh

Seiring bertambahnya usia, perubahan postur tubuh seorang lansia umumnya mengalami osteopenia dan osteoporosis, yang disebabkan berkurangnya kepadatan tulang. Kondisi ini dialami wanita saat ia memasuki menopause dan pria mengalami ini di sekitar usia 65 tahun.

Di samping kepadatan tulang yang semakin berkurang, massa otot pun berubah saat usia bertambah. Otot akan menyusut dan berganti menjadi lemak, sehingga mengakibatkan lemahnya kekuatan otot pada lansia. Hal ini berdampak pada perubahan postur tubuh.

Oleh karenanya, peregangan dapat membantu lansia untuk memperbaiki postur tubuhnya. Kekuatan otot yang terbentuk berkat peregangan dapat mendukung postur tubuh yang baik pada lansia. Di samping itu, peregangan juga mengurangi masalah nyeri otot punggung bawah yang sering dialami para lansia.

4. Mengurangi ketegangan otot

Ketegangan otot biasanya terjadi ketika tubuh tidak aktif bergerak, sehingga membuat tubuh jadi kaku dan nyeri. Maka itu, peregangan otot perlu dilakukan para lansia untuk menjaga kelenturan otot guna mengurangi dan menghindari nyeri akibat ketegangan otot.

5. Meningkatkan koordinasi 

Sistem koordinasi yang lemah membuat lansia mudah terjatuh saat beraktivitas, ketika ia berjalan, naik sepeda, atau mengangkat barang. Lemahnya sistem koordinasi juga terkait dengan proses kehilangan massa otot dan fleksibilitas. Untuk mengatasinya, lansia bisa melakukan latihan peregangan untuk meningkatkan koordinasi dan keseimbangan tubuh. Dengan begitu, ia mampu berkegiatan lebih optimal karena koordinasi tubuhnya terlatih seimbang dan tidak mudah jatuh.

Tips melakukan latihan peregangan bagi lansia

yoga untuk lansia

Latihan peregangan perlu dilakukan pada area yang sulit ketika melakukan gerakan berulang. Namun, utamanya peregangan perlu dilakukan dengan melatih beberapa otot seperti leher, kaki, tangan, pundak, dan pinggul. Peregangan otot ini bisa dilakukan secara mandiri di rumah. Untuk gerakan yang komprehensif, Anda bisa mengikuti kelas tai chi dengan guru profesional.

Agar aktivitas terjaga, setidaknya lansia perlu melakukan latihan peregangan setiap hari dengan durasi 15-30 detik pada setiap bagian tubuh. Anda bisa mengulang setiap gerakan 3-5 kali.

Adapun beberapa tips yang perlu diingat saat latihan peregangan.

  • Konsultasi ke dokter mengenai latihan peregangan atau olahraga apapun yang Anda rencanakan.
  • Sebelum latihan peregangan, lakukan pemanasan otot terlebih dulu. Misalnya, berjalan kaki atau menggerak-gerakkan lengan.
  • Pada mulanya, latihan peregangan bisa menimbulkan rasa tidak nyaman pada otot. Bila Anda merasa nyeri pada lutut atau persendian lainnya, segera hentikan latihan peregangan.
  • Peregangan dilakukan perlahan dan tidak terburu-buru. Hindari gerakan yang menyentak atau memantul agar terhindar dari cedera.
  • Usahakan tidak menekuk atau mengunci persendian saat melakukan peregangan. Namun, Anda masih boleh menekuk bagian tubuh lainnya.

Agar lebih bersemangat, ajak pasangan atau teman-teman Anda untuk ikut latihan peregangan bersama.

Nutrisi penting untuk mendukung kesehatan dan aktivitas fisik lansia

Kesehatan dan kualitas hidup lansia tidak hanya didukung dari aktivitas fisik saja, tetapi kecukupan nutrisinya. Saat beraktivitas, tentu tubuh membutuhkan energi yang cukup sehingga ia lebih bertenaga. Tentunya, energi ini diperoleh dari beragam makanan yang bernutrisi.

Nutrisi dan aktivitas fisik tak bisa dipisahkan dalam meningkatkan kesehatan dan kebugaran fisik lansia. Nutrisi dan aktivitas fisik bekerjasama dalam meningkatkan kekuatan otot, tulang, serta persendian. 

Tak hanya itu, pemenuhan nutrisi ini dilakukan untuk bantu mengatasi masalah hilangnya massa otot dan kepadatan tulang yang terjadi secara alami bagi lansia. Asupan nutrisi ini mendukung lansia dalam menghimpun energi dalam menyokong kekuatan otot dan tulangnya, sehingga ia kuat dalam menjalankan aktivitas fisik.

Oleh karenanya, lansia perlu mengonsumsi beragam makanan agar ia bisa mendapatkan manfaat nutrisi secara optimal. Berikut beberapa nutrisi yang perlu dipenuhi lansia untuk meningkatkan kesehatan dan aktivitas fisik. 

1. Protein

Protein penting dimasukkan sebagai nutrisi yang wajib dikonsumsi oleh para lansia. Nutrisi ini bantu kondisi saat kehilangan massa otot yang dialami lansia seiring pertambahan usia. Konsumsi protein dapat mendongkrak kekuatan otot lansia dalam meningkatkan aktivitas fisik.

Protein dapat diperoleh dari beberapa makanan berikut.

  • Daging unggas
  • Daging sapi tanpa lemak
  • Ikan
  • Telur
  • Tahu dan tempe
  • Kacang-kacangan
  • Produk susu

Selain dari beragam makanan di atas, lansia juga bisa melengkapi kebutuhan protein dengan konsumsi protein whey.Protein whey merupakan suplementasi yang baik, terutama dalam peningkatan massa otot bagi lansia. Peneliti melihat, protein whey dapat menjadi alternatif yang baik untuk menjaga  kualitas kesehatan lansia. 

Konsumsi protein whey dapat menunjang kekuatan tubuh lansia untuk melakukan aktivitas fisik secara mandiri. Protein whey juga membantu memulihkan otot ketika lansia melakukan aktivitas fisik yang intens. Dengan begitu, kecukupan asupan protein whey dan konsumsi makanan bernutrisi lainnya bantu mendukung lansia lancar beraktivitas fisik.

2. Kalsium dan vitamin D

perlukah lansia minum susu

Kalsium dan vitamin D adalah nutrisi penting untuk menjaga kekuatan otot dan tulang, serta mencegah terjadinya osteoporosis. Vitamin D tidak bisa diproduksi secara mandiri oleh tubuh. Maka itu, Anda perlu berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk mendapatkan vitamin D. Di dalam tubuh, vitamin D bertugas untuk meningkatkan penyerapan kalsium.

Sementara itu, kalsium dapat mudah didapatkan pada makanan seperti:

  • Sayur berdaun hijau, seperti brokoli dan kubis
  • Tahu
  • Susu dan keju
  • Kacang-kacangan
  • Ikan

Berdasarkan Clinical Nutrition Research, kalsium memiliki relasi penting dalam menurunkan risiko patah tulang, serta penyakit kronik lainnya. Manfaat kalsium dan vitamin D dapat diperoleh optimal bagi para lansia didukung dengan aktivitas fisik yang rutin.

3. Lemak nabati

peregangan untuk lansia

Lemak tetap dibutuhkan tubuh saat menginjak usia lanjut. Secara bijak, pilihlah lemak nabati yang diperoleh dari alpukat, minyak wijen, kacang almond, kacang macadamia, maupun kacang mede. Lemak nabati tersebut dikenal dengan istilah monounsaturated fats atau asam lemak tak jenuh tunggal.

Tanpa lemak yang cukup, tubuh tidak mampu menjalankan fungsinya secara baik. Lemak menjadi sumber energi atau bahan bakar ketika lansia melakukan aktivitas fisik. Lemak menjadi energi cadangan setelah karbohidrat. Asupan lemak dalam menu nutrisi seimbang dapat membantu lansia dalam meningkatkan kapasitas aktivitas fisik.        

4. Vitamin B12 dan B6

peregangan untuk lansia

Lansia juga perlu mendapatkan asupan vitamin B12 dan B6. Pada umumnya, B12 mendukung produksi sel darah merah dan mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. Manfaat ini dapat menurunkan risiko anemia pada lansia. Sedangkan vitamin B6 mengurangi risiko terjadinya penyakit kardiovaskular dan kanker.

Tak hanya itu, vitamin B6 dan B12 mendukung proses perubahan protein dan gula menjadi energi di dalam tubuh. Pemenuhan vitamin B6 dan B12 penting untuk dilakukan agar lansia lebih bertenaga dalam menjalankan aktivitas fisiknya. Kecukupan vitamin B12 dalam menu harian juga memberi manfaat untuk penguatan otot lansia dalam lansia beraktivitas fisik.

Anda bisa mendapatkan manfaat vitamin B6 dan 12 dari beberapa makanan ini:

  • Ikan salmon dan tuna
  • Telur
  • Daging unggas
  • Sayur dan buah, contohnya sayuran berdaun hijau, pisang, pepaya, dan jeruk

Sebagian lansia mungkin mengalami masalah penyerapan vitamin B. Biasanya ditandai dengan gejala anemia. Bila ini terjadi, konsultasikan segera ke dokter. Mungkin saja Anda direkomendasikan suplemen atau asupan khusus untuk mendukung penyerapan nutrisi.

5. Vitamin E

kacang almond

Bagi orang dewasa berusia 55 tahun ke atas, vitamin E menjadi nutrisi yang tak boleh dilewatkan. Kandungan antioksidan dalam vitamin E dapat meredakan kram otot dan mencegah bahaya stres oksidatif yang mungkin saja timbul saat lansia beraktivitas fisik.

Stres oksidatif biasanya timbul akibat radikal bebas yang disebabkan oleh polusi udara, paparan sinar matahari, paparan radiasi, atau asap rokok. Bahaya oksidatif dapat mengganggu fungsi normal sel yang bisa berdampak pada sistem imun tubuh dalam melawan penyakit. Maka itu, tubuh perlu asupan vitamin E yang bermanfaat dalam meningkatkan fungsi imun.

Manfaat yang selaras disebutkan pada jurnal Clinics 2019, disebutkan kandungan α-tokoferol dalam vitamin E dapat mendukung respons imun tubuh. Ini diartikan, vitamin E dapat meningkatkan daya tahan tubuh lansia dalam melawan beragam penyakit.

Selain itu, juga penelitian dalam jurnal Oxidative Medicine and Cellular Longevity mengatakan, vitamin E memiliki sifat anti-penuaan untuk otot karena kandungan antioksidan di dalamnya, serta mencegah sarcopenia, yakni kondisi seseorang kehilangan massa otot.

Anda bisa meraup manfaat vitamin E dari beberapa makanan berikut.

  •  Minyak zaitun
  • Minyak kanola
  • Kacang almond
  • Produk susu
  • Sayuran berdaun hijau
  • Suplemen

Kini, Anda sudah tahu beragam nutrisi penting untuk dukung aktivitas fisik para lansia. Pastikan kelima nutrisi tersebut hadir dalam setiap menu makanan harian. Nutrisi yang tepat diimbangi dengan latihan peregangan teratur membuat kualitas kesehatan Anda terjaga optimal.

Penting untuk diingat. dalam pemenuhan asupan nutrisi harian dan suplementasi, ada baiknya Anda berkonsultasi ke dokter untuk memastikan apakah Anda sudah berada di jalur yang tepat. 

Itulah tadi informasi mengenai Manfaat Latihan Peregangan bagi Lansia oleh - layananklinik24.site dan sekianlah artikel dari kami layananklinik24.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Friday, June 26, 2020

Mudah Kok! Ini Cara Membuat dan Mencuci Masker Kain Sendiri oleh - layananklinik24.site

Halo sahabat selamat datang di website layananklinik24.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Mudah Kok! Ini Cara Membuat dan Mencuci Masker Kain Sendiri oleh - layananklinik24.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Salah satu cara mencegah penularan COVID-19 adalah dengan menggunakan masker. Masyarakat kini mulai menghargai masker medis yang diperuntukkan bagi tenaga medis sebagai garda terdepan penanganan COVID-19. Maka itu, masyarakat akhirnya berinisiatif menggunakan masker kain. Karena bisa dipakai secara berulang kali, tentu perlu diterapkan cara mencuci masker kain secara tepat.

Cara membuat masker kain

Masker kain kini mudah diperoleh, karena banyak orang yang berinisiatif membuatnya. Namun jika ingin lebih hemat, Anda bisa membuatnya sendiri di rumah. Berikut cara yang bisa diterapkan saat membuat masker kain sendiri, berdasarkan tips dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Cara membuat masker kain dari kaos

Bahan: 

  • kaos
  • gunting

Langkah membuat:

  • potong bagian bawah baju dengan lebar sekitar 17-20 cm
sumber: Centers for Disease Control and Prevention
  • untuk membuat tali, potong bagian atas sepanjang 15-17 cm, sama seperti pada gambar. Kemudian potong pada bagian tengah untuk memisahkan tali
sumber: Centers for Disease Control and Prevention
  • Coba kenakan masker menutupi hidung dan mulut, dengan mengikat tali pada bagian atas kepala dan di belakang leher
sumber: Centers for Disease Control and Prevention

Cara membuat masker kain tanpa jahitan

Bahan:

  • bandana atau scarf katun kurang lebih 50×50 cm
  • ikat rambut atau karet gelang
  • gunting (bila perlu dipotong)

Langkah membuat:

sumber: Centers for Disease Control and Prevention
  • Lipat dua kain (bandana atau scarf), jika terlalu besar silakan digunting menurut ukuran di atas
  • Bagi tiga bagian kain. Lipat bagian atas dan bawah kain ke bagian tengah
  • Masukkan karet ke dalam scarf
  • Lipat masing-masing sisi ke tengah masker 
  • Lalu selipkan ujung sisi ke lubang sisi lainnya atau bisa juga dijahit agar masker bisa tetap pada tempatnya
  • Coba dan kenakan masker

Nah, kini Anda punya masker kain di rumah, coba yuk ketahui cara mencuci dan membersihkannya.

Cara mencuci dan membersihkan masker kain 

Banyak yang mempertanyakan apakah masker kain ini dapat efektif memberikan perlindungan? Adapun pada sebuah penelitian disebutkan, masker bedah lebih efektif dibandingkan masker yang terbuat dari kain.

Tetapi studi alam jurnal Disaster Medicine And Public Health Preparedness mengatakan, masker buatan sendiri dapat menjadi upaya terakhir untuk mencegah penularan infeksi saluran pernapasan (dalam pembahasan ini yang transmisi lewat droplet). Studi tersebut mengatakan, setidaknya masker buatan sendiri bisa menjadi perlindungan pribadi, daripada tidak ada perlindungan sama sekali.

Dalam situasi pandemik COVID-19 ini, penggunaan masker kain direkomendasikan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat. Banyak orang yang mulai berkreasi sendiri untuk membuat masker sendiri dari kain. Inisiatif ini dilakukan agar masker bedah lebih diutamakan kepada para tenaga medis yang langsung menangani pasien COVID-19.

Masker kain cenderung lebih efisien saat digunakan karena bisa dipakai kembali sewaktu-waktu. Menurut Web MD, penggunaan masker kain dapat memperlambat penularan virus. Bagi Anda yang masih memiliki kegiatan di luar rumah, tentu akan sering menggunakan masker kain tersebut.

cara mencuci masker kain

Masker bekerja untuk mencegah tetesan cairan dari orang yang batuk, bersin, atau bicara. Karena penularan bisa saja dari cairan paparan cairan tersebut. Maka itu, virus yang mungkin saja menempel pada masker perlu segera dihilangkan dengan cara dicuci.

Oleh karenanya, ketahui cara mencuci masker kain dengan tepat.

1. Lepas masker

Lepas masker tanpa menyentuh bagian depannya. Ada banyak bakteri dan virus yang mungkin hinggap pada bagian masker. Letakkan masker pada baskom atau mesin cuci.

Setelahnya, Anda perlu mencuci tangan secara benar selama 20 detik dengan sabun. Lakukan ini untuk meminimalkan bakteri atau virus yang menempel pada tangan. Selanjutnya terapkan cara tepat mencuci masker kain pada tahap selanjutnya.

2. Gunakan air panas

Jangan lupa untuk menggunakan air panas sebagai cara mencuci masker kain. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) setidaknya suhu 56ºC  dapat membunuh virus. Lebih detailnya, pada suhu tersebut sekitar 10.000 unit virus bisa terbunuh selama 15 menit.

Selain menggunakan air panas, Anda boleh sabun atau detergen saat mencuci di mesin cuci. Pada suhu panas, sabun dan detergen tidak meninggalkan sisa-sisa busa yang menempel pada masker. 

3. Keringkan masker

Setelah mencuci masker kain, Anda perlu mengeringkannya dengan temperatur panas sebagai cara lain untuk membunuh kuman. Jika menggunakan mesin pengering, jangan lupa untuk gunakan temperatur panas. 

Pilihan lainnya adalah dengan menggantung dan menjemurnya di bawah terik matahari. Sinar UV matahari dapat membantu membunuh kuman yang masih menempel pada kain masker.  

4. Simpan dan gunakan masker jika diperlukan

Setelah kering, jangan lupa untuk menyimpannya di dalam lemari. Bila sewaktu-waktu hendak mengenakan masker, jangan lupa untuk membersihkan tangan untuk mengurangi menempelnya bakteri atau virus pada masker. Tidak lain dengan mencuci tangan selama 20 detik dengan menggunakan air mengalir dan sabun.

Itulah tadi informasi mengenai Mudah Kok! Ini Cara Membuat dan Mencuci Masker Kain Sendiri oleh - layananklinik24.site dan sekianlah artikel dari kami layananklinik24.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

© 2017 LayananKlinik24.site - Memberikan Informasi Seputar Kesehatan. All rights resevered. Powered By Blogger